BONEKA KAIN

Sepasang suami istri telah menikah selama lebih dari 60 tahun. Mereka terus bersama-sama dalam mengarungi bahtera rumah tangganya. Kadang-kadang mereka mengahdapi lautan yang tenang, tetapi tidak jarang mereka menghadapi badai di dalam kehidupan pernikahannya. Mereka tidak mempunyai rahasia satu sama lain. Mereka berbagi hampir apa saja, kecuali satu kotak sepatu yang berada di tumpukan atas lemari sang istri, yang ingin agar kotak itu dibiarkan saja menjadi rahasianya.

Pada suatu saat, sang istri sakit parah dan tampaknya tidak lama kemudian akan meninggal dunia. Agar istrinya bisa meninggal dengan tenang sekaligus agar ia tidak dihantui rasa keingintahuan yang besar, sang suami meminta izin untuk membuka kotak sepatu itu. Istrinya mengizinkannya. Ternyata isinya uang sebesar 90 ribu dollar dan dua boneka kain buatan sendiri. Sebelum suaminya sempat bertanya, si istri sudah menjelaskannya. “Nenek saya mengajarkan saya untuk tidak bertengkar denganmu. Setiap kali saya marah, beliau meminta saya membuat sebuah boneka kain,” ujar istrinya.

Ketika mendengar itu, suaminya menangis terharu. Di dalam hatinya ia berkata “ ternyata saya suami yang baik. Selama lebih dari 60 tahun usia pernikahan kami, ternyata hanya 2 kali istri saya marah terhadap saya.”

“Lalu, mengapa ada uang 90 ribu dollar di sini?” tanya suaminya.

“Oh itu,” sahut istrinya lembut, “uang itu hasil dari penjualan boneka kain yang saya buat!”
saat membaca humor diatas, kita belajar satu hal penting, jangan pernah merasa baik dan benar sendiri. Istilahnya, self-righteosness. Biarlah kita berkata seperti pemazmur, “Aku berkata kepada TUHAN: “Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!” (Maz 16:2)
karena kita tidak baik, maka kita harus berusaha untuk hidup baik. Namun, apakah baik itu? Jika kita tidak punya patokan, baik itu sifatnya relatif. Patokan yang dimiliki oleh orang beriman adalah Firman Tuhan. Artinya, melakukan apa yang dianjurkan alkitab dan menjauhi apa yang dilarangnya.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga agar kehidupan rumah tangga kita harmonis? Kita harus memakai LEM agar tetap melekat satu sama lain.

L-ayani seorang dengan yang lain berdasarkan kasih Kristus. Saat melayani di sebuah persekutuan, mereka memberi saya plakat yang berbunyi: Christ is the head of this house! Dengan menjadikan Kristus sebagai kepala rumah tangga kita, kita sanggup menghadapi berbagai masalah.

E-mpatilah terhadap pasangan dengan mencoba memahami dirinya terlebih dahulu ketimbang menuntut untuk dipahami. Caranya? Tempatkan diri anda di posisi pasangan anda sebelum memberikan masukan apa pun.

M-aafkan segera kesalahan pasangan dan jangan menyimpan kesalahannya sampai matahari terbenam. Setiap lapis kata “maaf” yang kita lampirkan ke tubunya akan menambah satu lapis “kehangatan” di dalam hatinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: